PATOFISIOLOGI KELAINAN STRUKTUR SALURAN PENCERNAAN

 2.1. 1. Peradangan Sistem Pencernaan

Peradangan sistem pencernaan bisa menimpa siapa saja. Gejala ini biasanya ditandai dengan perut terasa panas sesudah makan atau muncul bercak darah ketika buang air besar. Usus akan terasa sakit karena terjadi peradangan dan biasanya disertai gejala diare, muntah dan menurunnya berat badan. Untuk mengatasi hal itu, para ilmuwan telah menemukan beberapa jenis serat larut yang dapat membantu mencegah bakteri menempel pada dinding usus, sehingga mengurangi perkembangan penyakit ini.

Penyakit Sistem Pencernaan adalah semua penyakit yang terjadi pada saluran pencernaan. Penyakit ini merupakan golongan besar dari penyakit pada organ esofagus, lambung, duodenum bagian pertama, kedua dan ketiga, jejunum, ileum, kolon, kolon sigmoid, dan rectum.

Penyakit pada Sistem Pencernaan:

  • Apendikitis yaitu Radang usus buntu.
  • Diare yaitu Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang terlalu cepat.
  • Konstipasi (Sembelit) yaitu Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air besar)
  • Maldigesti yaitu Terlalu banyak makan atau makan suatu zat yang merangsang lambung.
  • Parotitis yaitu Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga Gondong
  • Tukak Lambung/Maag yaitu “Radang” pada dinding lambung, umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori
  • Xerostomia yaitu Produksi air liur yang sangat sedikit

 2.1.2. Infeksi Sistem Pencernaan

Infeksi pada sistem pencernaan dapat disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Di antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung, peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis).

  1. Apendisitis

Kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.

Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica.

  1. Diare

Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.

  1. Konstipasi infeksi (Sembelit)

Keadaan dimana sulit untuk melakukan pembuangan air besar. Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur yang dapat menyebabkan kesulitan untuk melakukan pembuangan air besar. Sembelit terjadi jika kim masuk ke usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka feses menjadi keras dan kering. Kekurangan cairan dan infeksi virus juga dapat menyebabkan konstipasi. Hal ini disebabkan karena kurang minum, menderita demam, dan kehilangan cairan melalui saluran napasnya. Dalam hal ini tidak perlu khawatir, sebab bila infeksi dapat diatasi biasanya konstipasinya akan hilang.

  1. Tukak Lambung (Ulkus)

Luka yang terjadi di sekitar bagian dalam lambung atau usus yang menyebabkan rasa nyeri pada sistem pencernaan. Terjadi ketika asam yang membantu pencernaan makanan merusak dinding lambung atau duodenum. Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang disebut Helicobacter pylori

Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut:

  • Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium).
  • Gangguan lain adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik.
  • Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung.
  • Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung.
  • Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.
  • Abses Abdomen

Abses Abdomen (abses perut) bisa terbentuk dibawah diafragma, di pertengahan perut, di rongga panggul atau di belakang rongga perut.
Abses juga bisa terbentuk di dalam atau di sekitar organ perut, misalnya ginjal, limpa, pankreas atau hati, atau di dalam kelenjar prostat.

2.2. Obstruksi Sistem Pencernaan

 

2.2.1.Obstruksi Lambung

Obstruksi pintu keluar lambung akibat peradangan dan edema, pilorospasme, atau jaringan parut, terjadi pada sekitar 5% penderita tukak peptic. Obstruksi timbul lebih sering pada penderita tukak duodenum, tetapi kadang-kadang terjadi bila tukak lambung terletak dekat dengan sfingter pylorus.

Anoreksia, mual, kembung setelah makan merupakan gejala-gejala yang sering timbul. Kehilangan berat badan sering terjadi. Bila obstruksi bertambah berat, dapat timbul nyeri dan muntah.

Pengobatan diarahkan langsung untuk koreksi cairan dan elektrolit, dekompresi lambung dengan memasukan tabung nasogastrik, dan koreksi pembedahan dan obstruksi (piloroplasti).

2.2.2.Obstruksi Usus

Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut atau kronik, parsial atau total. Obstruksi usus kronik biasanya mengenai kolon akibat karsinoma, dan perkembangannya lambat. Sebagian obstruksi mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang merupakan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.

Walaupun setiap usus dapat terkena karena lumennya yang sempit, usus halus adalah bagian yang paling sering terkena. Empat entitas-hernia, perlekatan usus, intususepsi, dan volvulus merupakan penyebab pada paling sedikit 80% kasus.

Beberapa pakar mendefinisikan tentang obstruksi usus:

  1. Nettina, 2001

Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal.

  1. Tucker, 1998

Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat              pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional.

  1. Ester, M, 2002:49

Obstruksi usus adalah kerusakan parsial atau komplit aliran isi usus ke arah ke depan. Yang kebanyakan terjadi di usus halus khususnya di ileum.

  1. Long B.C, 1996:242

Gangguan yang terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari isi usus, bisa juga karena hambatan terhadap rangsangan syaraf untuk terjadinya peristaltik atau karena adanya blokkage pada ileus mekanik/organik.

Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsino ma dan perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.

Ada dua tipe obstruksi yaitu:

  1. Mekanis (Ileus Obstruktif)

Terdapat obstruksi intralumen atau obstruksi mural oleh tekanan ekstrinsik. Obstruksi mekanik digolongkan sebagai obstruksi mekanik simpleks (satu tempat obstruksi) dan obstruksi lengkung tertutup ( paling sedikit 2 obstruksi). Karena lengkung tertutup tidak dapat didekompresi, tekanan intralumen meningkat dengan cepat, mengakibatkan penekanan pebuluh darah, iskemia dan infark (strangulasi). Sehingga menimbulkan obstruksi strangulata yang disebabkan obstruksi mekanik yang berkepanjangan. Obstruksi ini tidak mengganggu suplai darah, menyebabkan gangren dinding usus. Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses

  1. Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik)

Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Peristaltik usus dihambat sebagian akibat pengaruh toksin atau trauma yang mempengaruhi kontrol otonom pergerakan usus. Peristaltik tidak efektif, suplai darah tidak terganggu dan kondisi tersebut hilang secara spontan setelah 2 sampai 3 hari. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.

Obstruksi usus dapat disebabkan oleh tiga macam faktor (Ester, M, 2002:49) yaitu:

  1. Faktor Mekanis : Suatu penyebab fisik menyumbat usus dab tidak dapat diatasi oleh peristaltic
  • Perlekatan atau adhesi yaitu lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen (Brunner & Suddarth, 2002:1121). Pada perlekatan usus halus adhesi pita-pita jaringan ikat mungkin terbentuk dari organ ke organ ke dinding peritoneum sebagai hasil penyembuhan dari peritonitis atau setelah setiap operasi abdominal (Robbins & Kumar, 1995:266).
  • Hernia : Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen
  • Volvulus yaitu usus memutar dan kembali kekeadaan, akibatnya lumen usus menjadi tersumbat, menunjukkan adanya pemelintiran (pemutaran) dari saluran usus, kira-kira pada dasar pelekatan mesenterik. Hal ini sering terjadi pada usus halus, tapi saluran sigmoid yang sangat berlebihan munkin dapat terkena. Obstruksi dan infrak sering terjadi pada kasus ini (Robbins dan Kumar, 1995:266).
    • Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus.
  1. Faktor Neurogenik/Fungsional : Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong.
  • Intususepsi atau invaginasi adalah bagian dari usus menyusup ke dalam bagian lain yang ada di bawahnya akibat penyempitan lumen usus. Pada gangguan ini satu segmen dari usus halus dikerutkan oleh suatu gelombang peristaltik, serta masuk mengalami invaginasi ke dalam segmen distal dari usus tersebut. Sekali terjebak, segmen yang masuk tersebut oleh gerakan peristaltik didorong ke dalam segmen bagian distal, ikut menarik mesenterium dibelakangnya (Robbins dan Kumar, 1995:266).
  1. Faktor vaskuler yaitu obstruksi aliran darah yang dapat timbul sebagai akibat dari okulasi komplet (infark mesentrika) atau oklusi proksimal (angina abdominal).

Manifestasi Klinik obstruksi

Mansjoer, A, 2000:318

  1. nyeri karena luka atau akibat penumpukan gas
  2. mual, muntah karena adanya distensi abdomen dan akumulasi gas dan cairan,
  3. konstipasi bisa terjadi karena kurang aktivitas, penurunan gerakan gastrointestinal,
  4. retensia urine karena adanya tekanan pada kandung kencing,

Boughman & Hackley,2000:382

  1. dehidrasi mengakibatkan haus yang berlebihan, rasa mengantuk, malaise dan sakit,
  2. shock karena dehidrasi atau kehilangan volume plasma.

Long, B.C, 1996:79

Pada manifestasi klinis pasca bedah yaitu terjadi

  1. konstipasi
  2. mual
  3. muntah
  4. retensi urin
  5. distensi abdominal
  6. nyeri karena gas
  7. nyeri disertai dingin
  8. nyeri disertai demam.

Patofisiologi Obstruksi

            Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utamanya adalah pada obstruksi paralitik di mana peristaltic dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltic mula-mula diperkuat, kemudian intermiten, dan akhirnya hilang.

Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus dapat dilihat pada gambar. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari usus ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan disekresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan di mulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan eksrta sel yang mengakibatkan syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, dan asidosis metabolic. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan kedalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin bakteri kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.

Patofisiologi infeksi

Menurut Mansjoer, 2000: Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.

Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukus. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium, nausea, muntah. invasi kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa, submukosa, lapisan muskularisa, dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah.Suhu tubuh mulai naik.Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah, akan menyebabkan apendisitis perforasi.
Bila proses tersebut berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang.

Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

DAFTAR PUSTAKA

Albert M. 2005. Keajaiban-keajaiban dalam tubuh manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Wibowo.

Daniel S. 2005. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Bresnick, Stephen M.D. 2003. Intisari Biologi. Jakarta: Hipokrates.

Syaifuddin, H. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sloane.

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiolgi untuk keperawatan. Jakarta : Penerbitan Buku  Kedokteran EGC

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.